Cerita Rakyat Paling Mahsyur di Indonesia

malin kundang 2

Narasi pengantar tidur anak-anak Indonesia dahulu dikuasai oleh narasi rakyat. Ingat kejadian Bandung Bondowoso bangun seribu candi pada suatu malam untuk menjadi pemenang tangan Roro Jonggarang (dalam mitologi Jawa kejadian riwayat Candi Prambanan Yogyakarta)? Atau Joko Tarub, Peeping Tom kita sendiri, merampas selendang dari orang bidadari yang mandi di danau biar ia kembali padanya (generasi Joko Tarub menurut dogma lain membangun kerajaan Mataram besar di Jawa di masa ke-17)?

Saat ini di waktu YouTube, Netflix, My Little Pony, serta We Bare Bears, narasi rakyat sudah kehilangan fenomenanya, sebabkan beberapa penerbit lokal mengeluarkan buku narasi bermotif narasi rakyat yang memberikan bocoran beberapa unsur narasi yang tak membahagiakan serta tak ramah anak untuk menarik pembaca.

Menurut ahli narasi anak Kampus Indonesia, Riris K. Toha-Sarumpaet, dalam artikel dengan tajuk “Batu Permata Punya Ayahanda: Dongeng Tradisionil Indonesia” yang diluncurkan di Jurnal Wanita tahun 2007, normalnya narasi rakyat lokal dipertunjukkan satu atau lebih pada empat objek penting ini: kepatuhan, amarah pria serta kesetiaan wanita, iri hati serta perebutan saudara kandungan, akal-akalan serta kekanakan.

Sisi yang jelek, kata Riris, merupakan jika banyak pada mereka condong seksis, sadis serta rayakan kepasifan wanita.

Editor buku veteran Bambang Trimansyah pula berkata dalam suatu pemikiran di Kedaulatan Rakyat jika beberapa objek narasi rakyat lokal tak sesuai untuk pembaca muda, termaksud sex, sadisme serta bias gender.

Ada sekian banyak usaha untuk mengayalkan kembali kejadian-kisah mempunyai masalah ini untuk pembaca kekinian. Di tahun 2000, penyair Toeti Heraty mengeluarkan reinterpretasi feminis dari kejadian Bali “Calon Arang.” Buku prosa liris itu dengan tajuk “Calon Arang: Kejadian Wanita Korban Patriarki” (“Calon Arang: Kejadian Orang Wanita Korban Patriarki”).

Silakan kita tonton lima narasi rakyat Indonesia yang sangat populer. Mendapatkan teknik untuk berceritanya kembali mesti mulai dengan membacanya.

  1. Bawang Merah Bawang Putih

“Bawang Merah Bawang Putih” (“Bawang Merah serta Bawang Putih”) merupakan narasi Cinderella perihal kebaikan menentang kejahatan serta sangatlah ternama di Indonesia serta Malaysia.

Bawang Merah serta Bawang Putih merupakan saudara tiri yang bertentangan keduanya. Bawang Merah merupakan gadis pemalas, serakah yang dimanja oleh ibunya, dan Bawang Putih penurut, rajin, serta mengerjakan seluruh tugas tiada meratap.

Satu hari cucian di sungai, Bawang Putih kehilangan selendang, yang diambil dengan orang wanita tua. Wanita tua itu berkata ia dapat kembalikan selendang kalau Bawang Putih mengolah serta bersihkan untuk dirinya. Bawang Putih mengerjakan apa yang diminta, mendapati syalnya kembali serta wanita tua itu jadi hadiah memerintahnya untuk bawa pulang salah satunya dari dua labunya, yang kecil atau yang besar.

Bawang Putih menunjuk labu yang lebih kecil. Di saat ia buka labu di dalam rumah, ia mendapatkan buah itu dipenuhi dengan perhiasan.

Bawang Merah serta ibu mereka cemburu serta mau labu mereka sendiri berisi perhiasan, jadi mereka berangkat ke sungai serta dengan berencana kehilangan selendang mereka. Lantas mereka datang rumah wanita tua itu serta mengharap labu. Mereka bawa pulang yang besar (pastilah saja), akan tetapi bukannya perhiasan, labu besar mereka berisi ular.

Narasi ini sudah diadaptasi berulang-kali jadi kisah pentas, film, serta seri TV.

Di tahun 2005, dibentuk jadi suatu film sinetron Indonesia berdasar Indonesia kontemporer. Bawang Merah serta Bawang Putih jadi remaja sekolah menengah. Revalina S. Temat bertindak jadi Alya (Bawang Putih), putri dari keluarga kaya raya, serta Nia Ramadhani bertindak jadi Siska (Bawang Merah) yang ibunya orang janda miskin. Ada sifat tambahan namanya Ferdi yang dimainkan oleh Dimaz Andrean, orang anak laki laki yang terperdaya dalam cinta segitiga dengan Alya serta Siska.

Seri ini kantongi penghargaan “Film sinetron Paling disukai” di Panasonic Gobel Awards 2005. Lantas diputar di TV3 Malaysia di tahun 2006-2007.

  1. Malin Kundang

Kejadian “Malin Kundang” asli berdasar di tempat tersendiri, Pantai Air Manis di Padang, Sumatera Barat. Malin Kundang ceritakan perihal orang anak yang tidak jelas mengucapkan terima kasih yang disumpah jadi batu oleh ibunya.

Kalau kamu bertandang ke pantai ini, kamu bisa memandang suatu batu yang diyakini jadi batu sumpah Malin Kundang lantaran berwujud mirip orang tertelungkup yang tengah berlutut meminta ampun.

Narasi rakyat lain dari Kalimantan Barat yang dimaksud “Batu Menangis” punyai narasi yang paling serupa dengan Malin Kundang, akan tetapi tak ada “batu menangis” yang pernah sempat ditemui di wilayah itu.

Ada sekian banyak ketidakcocokan di antara ke-2  narasi itu. Malin Kundang, pada awal narasi, merupakan orang pemuda buruh keras serta penurut. Ia menjalani dunia untuk mendapati bisa lebih banyak uang untuk menyuport ibunya. Sehabis beberapa tahun, Malin kembali jadi orang kaya. Anyar, Malin yang percuma saat ini menampik untuk dipautkan dengan ibunya yang malang. Waktu tersebut si ibu berdoa biar ia diganti jadi batu.

Saat itu, figur penting Batu Menangis merupakan orang gadis manja yang tak pernah angkat jemari untuk menolong ibunya. Kebalikannya, ia lagi berkata terhadap beberapa orang jika ibu sebetulnya merupakan pembantunya. Ibu pada akhirnya berasa cukup serta berdoa terhadap Tuhan biar gadis itu beralih jadi batu.

  1. Mentimun Mas

Suatu cerita rakyat dari Jawa tengah, “Mentimun Mas” (“Timun Emas”) memperlihatkan orang gadis muda pemberani yang berhasil lolos dari genggaman raksasa namanya Buto Ijo (“Raksasa Hijau”).

Ini mulai dengan orang janda tua tiada anak yang tinggal sendiri. Ia datang Buto Ijo, orang raksasa yang kuat, mengharap untuk diberi berkah dengan orang anak. Buto Ijo memberikannya timun besar serta memohon janji untuk memberi anak sulungnya untuk dikonsumsi.

Di saat janda itu pulang, ia mendapatkan orang bayi wanita di timun. Ia memberikan nama Mentimun Mas serta lupakan janjinya.

Satu hari, di saat Mentimun Mas telah remaja, Buto Ijo singgah ke rumah wanita tua itu memohon untuk penuhi janjinya. Wanita itu memerintah Mentimun Mas larikan diri, membuntelinya stock biji timun ajaib, jarum serta garam.

Buto Ijo kejar Mentimun Mas akan tetapi ia selalu sukses larikan diri dengan gunakan strategi sulap ibunya. Buto Ijo pada akhirnya ditundukkan di saat Mentimun Mas menaburkan garam di kitarannya yang beralih jadi lautan serta menelannya utuh.

Narasi rakyat lain dari Kalimantan Barat yang dimaksud “Batu Menangis” punyai narasi yang paling serupa dengan Malin Kundang, akan tetapi tak ada “batu menangis” yang pernah sempat ditemui di wilayah itu.

Ada sekian banyak ketidakcocokan di antara ke-2  narasi itu. Malin Kundang, pada awal narasi, merupakan orang pemuda buruh keras serta penurut. Ia menjalani dunia untuk mendapati bisa lebih banyak uang untuk menyuport ibunya. Sehabis beberapa tahun, Malin kembali jadi orang kaya. Anyar, Malin yang percuma saat ini menampik untuk dipautkan dengan ibunya yang malang. Waktu tersebut si ibu berdoa biar ia diganti jadi batu.

Saat itu, figur penting Batu Menangis merupakan orang gadis manja yang tak pernah angkat jemari untuk menolong ibunya. Kebalikannya, ia lagi berkata terhadap beberapa orang jika ibu sebetulnya merupakan pembantunya. Ibu pada akhirnya berasa cukup serta berdoa terhadap Tuhan biar gadis itu beralih jadi batu.

Ayo Berbagi Tips

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *