Hukum Menyolatkan dan Memandikan Bayi yang Keguguran

Apa pendapat yang paling kuat tentang kasus memandikan dan menyolati “Saqth” (bayi yang lahir dari kasus keguguran) dalam usia kehamilan tiga bulan dan belum menyadari wujud badannya? Semoga Alloh membalas Anda bersama dengan kebaikan.

Jawabnya disertai bersama dengan sedikit tambahan faidah, bersama dengan memohon taufiq dari Alloh semata:Adapun bayi yang sudah menyadari kehidupannya lantas meninggal, para ulama sudah bersepakat bahwasanya dia itu dimandikan dan disholati. Mereka berselisih pendapat tentang kasus keguguran yang belum diketahui apakah bayi itu sempat hidup ataukah tidak.

Al Imam Ibnul Mundzir -semoga Alloh merohmati beliau- berkata: “Para ulama bersepakat bahwasanya bayi jika sudah diketahui hidupnya dan menangis, (lalu dia mati), dia disholati. Dan mereka berselisih tentang bayi yang belum diketahui kehidupannya. Kami meriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Jabir bahwasanya mereka berkata: “Jika dia (yang dilahirkan lantas mati) tadi sempat berteriak menangis, maka dia disholati.”.” (“Al Ausath”/9/hal. 267).

Dan “Saqth” (bayi yang lahir dari kasus keguguran) jika sudah sempurna wujud tubuhnya lantas muncul dalam situasi hidup kemudian mati, dia itu disholati. Al Imam Ibnul Mundzir rohimahulloh meriwayatkan bersama dengan sanad yang shohih dari Nafi:

أن ابن عمر ، سئل ، عن الصلاة ، على السقط ؟ قال : إذا تم خلقه ووقع حيا ، صلي عليه قال : وقد صلى مرة على سقط في الدار ، لا أدري وقع حيا ، أو ميتا.

Bahwasanya Ibnu Umar ditanya tentang menyolati bayi yang lahir dari kasus keguguran, maka beliau menjawab: “Jika wujud tubuhnya sudah sempurna dan dia muncul dalam situasi hidup, maka dia disholati.” Ibnu Umar pernah sholat satu kali untuk bayi yang lahir dari kasus keguguran di tempat tinggal ini. Saya tidak menyadari apakah bayi tadi muncul hidup-hidup ataukah dalam situasi mati.” (“Al Ausath”/9/hal. 268).

Jika kegugurannya tadi itu berlangsung sesudah empat bulan dari jaman kandungan, maka artinya sudah ditiupkan padanya ruh dan dia sudah punya wujud tubuh, maka dia itu dimandikan dan disholati.
Al Imam Ishaq bin Ibrohim rohimahulloh berkata: “Sunnah sudah berlangsung pada para Shohabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tentang bayi jika gugur dari perut ibunya dalam situasi bayi itu mati sesudah sempurna wujud tubuhnya dan ditiupkan padanya ruh, dan itu adalah berlalunya jaman empat bulan sepuluh hari, maka dia itu disholati. Adapun warisan, maka bayi tadi cuma mewarisi jika lahir dalam situasi berteriak menangis (sempat hidup). Adapun bayi yang dibangkitkan pada hari Kiamat itu dalam situasi dia adalah jiwa yang sempurna dan sudah dicatat untuknya nasib celaka atau beruntung, maka kenapa dia tidak disholati? (“Al Ausath”/9/hal. 273).
Adapun jika bayi tadi gugur sebelum mencapai empat bulan, artinya belum ditiupkan padanya ruh, maka dia tidak disholati.
Al Imam An Nawawiy rohimahulloh berkata: “Al ‘Abdariy berkata: Jika usia janin tadi di bawah empat bulan, maka tak ada perselisihan bahwasanya dia itu tidak disholati. Yaitu: ini kesepakatan para ulama.” (“Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab”/5/hal. 258).
Al Imam Asy Syinqithiy rohimahulloh bicara dalam mensyaroh “Zadul Mustaqni’”: “Ucapan beliau rohimahulloh: “Saqth jika sudah mencapai empat bulan, dia itu dimandikan dan disholati.” Saqth adalah janin yang digugurkan oleh wanita hamil, serupa saja dia itu laki-laki ataukah perempuan. Saqth tadi jika sudah mencapai empat bulan, yaitu: seratus duapuluh hari, berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anh :

«يُجْمَع خلق أحدكم في بطن أمه أربعين يوماً نطفةً، ثم يكون علقة مثل ذلك، ثم يكون مضغة مثل ذلك، ثم يُرسل الملك فينفخ فيه الروح، فيؤمر بكتابة أربع كلمات، عمرِه وأجلِه وعملِه، وشقي أو سعيد »،

“Salah seorang dari kalian itu penciptaannya dihimpun di perut ibunya sepanjang empat puluh hari sebagai nuthfah (gabungan mani pria dan wanita), lantas jadi ‘alaqoh (gumpalan darah) sepanjang empat puluh hari juga, lantas jadi mudghoh (gumpalan daging) sepanjang empat puluh hari juga, kemudian diutuslah malaikat, lantas dia meniupkan kepadanya ruh, lantas dia diperintahkan bersama dengan menuliskan empat kalimat: umurnya, ajalnya, amalannya, celaka atau beruntung.” [HR. Al Bukhoriy (3208) dan Muslim (2643)].

Maka ini perlihatkan sebagaimana ucapan para ulama –semoga Alloh merohmati mereka- bahwasanya ruh itu ditiupkan sesudah empat bulan. Dan inilah yang ditetapkan berdasarkan lahiriyyah hadits. Mereka berkata: jika sudah mencapai kadar ini, maka “saqth” diperlakukan bagaikan diperlakukannya bayi yang hidup, maka dia dimandikan, dikafani dan disholati dan juga dinamakan. Yaitu: ayahnya memberinya nama. Sama saja dia itu laki-laki ataukah perempuan.” (“Syarh Zadil Mustaqni’”/Asy Syinqithiy/3/hal. 381).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh ditanya: anak kecil yang gugur sebelum sempurna, apakah dia itu diaqiqohkan ataukah tidak?
Beliau rohimahulloh menjawab: “Bayi yang gugur sebelum sempurna empat bulan, maka dia itu tidak diaqiqohkan, tidak diberi nama, tidak disholati. Dia ditanam di manapun di bumi. Adapun jika gugur sesudah empat bulan, maka dia itu sudah ditiupkan ke badannya ruh, maka dia diberi nama, dimandikan, dikafani, dan disholati, dan juga dimakamkan bersama dengan muslimin, dan menurut pandangan kita dia itu diaqiqohkan. Tapi {beberapa|sebagian|lebih dari satu} ulama berkata: tidak diaqiqohkan hingga dia itu sempurna hidup tujuh hari. Tapi yang benar adalah bahwasanya dia itu diaqiqohkan, gara-gara dia bakal dibangkitkan pada hari Kiamat dan jadi pemberi syafaat untuk ke dua orang tuanya.”
(“Liqoatul Babil Maftuh”/17/hal. 38).
Beliau rohimahulloh terhitung ditanya: Fadhilatusy Syaikh, jika janin itu gugur pada jaman empat bulan, apakah dia itu diaqiqohkan dan disholati?
Beliau rohimahulloh menjawab: “Telah selamanya dalam hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anh dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bahwasanya janin jika sudah sempurna empat bulan itu ditiupkan padanya ruh. Maka jika dia gugur sesudah peniupan ruh, maka dia itu seperti bayi yang gugur dalam situasi sudah sempurna, maka dia itu dimandikan, dikafani, disholati dan dimakamkan di pekuburan. Adapun aqiqoh maka ada perselisihan tentangnya. Sebagian ulama berkata: diaqiqohkan gara-gara dia nanti bakal dibangkitkan. Dan {beberapa|sebagian|lebih dari satu} ulama ulang berkata: tidak diaqiqohkan. Dan saya berpandangan untuk dia itu diaqiqohkan jika ayahnya punya kemudahan rizqi, gara-gara aqiqoh itu di dalamnya ada kebaikan, shodaqoh dan amal kebajikan.”
(“Liqoatul Babil Maftuh”/26/hal. 16).
Kita mohon pada Alloh Yang Paling Penyayang agar membesarkan untuk kaum mukminin yang sabar pahala mereka di dalam musibah mereka, dan mengganti untuk mereka yang lebih baik daripada musibah mereka.

Artikel Terkait : Keranda Jenazah
Baca Juga : Kain Penutup Keranda

Ayo Berbagi Tips

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *