Ini Dia Bedanya Modal Dasar, Modal Ditempatkan, dan Modal Disetor

Apabila kamu berencana untuk memulai usaha, tersedia baiknya mencermati ulasan berikut ini yang kami membuat tentang jenis-jenis modal di dalam pendirian Perseroan Terbatas (“PT”).

Dalam mendirikan sebuah PT, modal bisnis merupakan salah satu komponen yang terpenting. Kalau menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Perseroan Terbatas (“UUPT”), tersedia 3 jenis modal, yakni modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. Berikut adalah perbedaan 3 jenis modal tersebut:

Modal Dasar

Yahya Harahap di dalam bukunya Hukum Perseroan Terbatas menyebutkan bahwa modal basic adalah seluruh nilai nominal saham PT yang disebut di dalam Anggaran Dasar (“AD”), yang pada prinsipnya merupakan total kuantitas saham yang bisa diterbitkan oleh PT. Penentuan kuantitas saham yang menjadi modal basic ditentukan di dalam AD PT tersebut.

Meskipun pada awalnya UUPT menentukan modal basic PT adalah sedikitnya berjumlah Rp50 juta, ketentuan ini telah diubah bersama dengan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Dasar Perseroan Terbatas (“PP 29/2016”).

Kini, berdasarkan PP 29/2016, tidak tersedia kembali kuantitas minimum modal basic dan kuantitas modal basic kini ditentukan berdasarkan kesepakatan para pendiri PT. Namun, spesifik untuk sektor-sektor bisnis tertentu, tetap terkandung batasan minimum yang diatur di dalam ketentuan perundang-undangan.

Jika mengalami ada masalah untuk mengurus pendirian perusahaan dan perizinan berusaha, kamu bisa menghubungi Easybiz untuk solusi terbaik yang legal dan tepat.


Modal Ditempatkan

Dari total kuantitas modal basic PT, pendiri atau pemegang saham menyita sejumlah saham dari modal berikut yang disanggupi untuk dilunasinya untuk dimiliki, meskipun tersedia yang telah dibayar dan tersedia yang belum. Jumlah saham yang telah diambil dan disanggupi untuk dilunasi tersebutlah yang dinamakan modal ditempatkan.

Modal Disetor

Jenis modal yang terakhir, yakni modal disetor. Modal disetor ini adalah modal yang dimasukkan oleh pemegang saham atau pemiliknya sebagai pembayaran/pelunasan untuk kuantitas saham yang diambil dan dimilikinya. UUPT mensyaratkan paling sedikit 25% dari modal basic harus di tempatkan dan disetor penuh waktu pendirian PT.

Ilustrasi

Agar tidak kebingungan, begini ilutrasinya:
X dan Y setuju untuk mendirikan PT XY. Dalam AD PT XY disepakati bahwa modal basic PT berjumlah Rp200 juta yang terbagi atas 2000 lembar saham, supaya nilai per lembar sahamnya adalah Rp100 ribu.

Dari modal basic Rp200 juta tersebut, X dan Y hanya menyanggupi untuk menyita dan membayar saham sejumlah Rp100 juta, namun baru dilunasi sebesar Rp75 juta oleh mereka.

Rp100 juta berikut adalah modal ditempatkan, dan Rp100 juta lain yang belum diambil dan dimiliki adalah saham portefel.

Saham portefel menurut M. Yahya Harahap adalah saham yang “belum dikeluarkan” atau “belum ditempatkan”. Setiap saat, saham portefel bisa dikeluarkan untuk meningkatkan modal di tempatkan yang harus disetor penuh, tidak boleh mengangsur.

Oleh karena modal basic harus di tempatkan dan disetor penuh pada waktu pendirian PT, maka X dan Y yang baru menyetor Rp75 juta harus melunasi Rp25 juta sebelum akan jasa pembuatan PT.

Keadaan ini mengakibatkan problem, karena sebuah PT tidak bisa miliki rekening atas nama PT berikut apabila proses pengurusan dokumen legalitasnya belum selesai.

Ayo Berbagi Tips

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *