Meteran Air PDAM Berputar Cepat



Warga Jambi mengeluhkan bayaran tagihan PDAM yang membengkak. Untuk mengatasinya warga pun beralih mengunakan sumur galian, meski air kurang jernih.

Warga Jambi Sugianto mengatakan kini tak lagi gunakan PDAM sebagai sumber air utama, tapi beralih ke sumur galian.

Walau begitu, warga Kelurahan Rawasari itu tetap tidak memutuskan sambungan PDAM ke rumahnya untuk jaga-jaga

Sugianto mengatakan, dia menerapkan metode tersebut karena tagihan PDAM tahun lalu yang menurutnya sudah tidak wajar.

“Sebulan kadang Rp 200 ribu, kadang Rp 300 ribu. Padahal hanya kita gunakan untuk keperluan mandi dan cuci,” katanya kepada Tribun, pekan lalu.

Sejak menggunakan air dari sumur, tagihannya kini tidak pernah lagi mencapai nominal Rp 100 ribu.

“Sekarang tagihan air berkurang, tapi tagihan listrik bertambah,” ujarnya.

Warga Siap Protes

Pria yang bekerja sebagai pedagang di Pasar Angso Duo itu menyebut sudah lebih dari 10 tahun menjadi pelanggan PADM.

“Awal tahun 2005. Meterannya masih sama sejak dipasang sampai dengan sekarang. Belum pernah ganti,” ungkapnya.

Ada kekhawatiran pada dirinya bahwa penyebab tagihannya dulu bengkak karena meteran sudah tua.

“Sepertinya meterannya berputar lebih cepat dari yang semestinya. Dulu saya minta untuk ganti tapi katanya kalau permintaan sendiri harus bayar. Kalau meteran hilang juga harus bayar,” jelas Anto, panggilannya.

Dia merasa aneh bila harus bayar, sebab menurut dia meteran air itu hingga ke sambungan pipa utama, harusnya menjadi tanggung jawab dari PDAM.

Nuraini, Warga Jalan Pratu Tandu Suwito, Kelurahan Telanaipura, juga mengeluh lantaran tagihan bulanan airnya membengkak. Biasanya hanya membayar tak lebih dari Rp 90 ribu, kini dia harus membayar hampir Rp 200 ribu.

“Ini tagihan bulan Oktober kemarin. Kami bayar Rp 189 ribu, nggak pernah-pernah bayar segini,” ujarnya

Ia tuturkan, sejak rumahnya berdiri 2010 silam, tagihan bulanannya tak pernah mencapai di atas Rp 100 ribu.

Kesehariannya ia lebih sering menggunakan air sumur gali. “Kami jarang pakai air PDAM kalau nggak kepepet,” ujarnya lagi sambil menunjukkan struk pembayaran rekening air.

Ia khawatir, water meter itron rumahnya bermasalah. Pasalnya sejak 2010 hingga kini, meteran tersebut belum pernah diganti oleh pihak PDAM.

“Kalau Desember ini bayarnya masih bengkak juga, kami bakal protes,” ungkap Nuraini. Dia menaruh curiga pada meteran airnya bergerak lebih cepat dari seharusnya, sehingga pemakaian yang tercatat jadi lebih banyak dari air yang dipakai.

Hal serupa juga pernah dialami oleh Mardiah (35). Warga Jalan Pekanbaru, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo. Bahkan hampir membayar tagihan air bulanan mencapai Rp 400 ribu.


Mardiah yang sekaligus istri Ketua RT 8 ini bercerita, peristiwa itu belum lama terjadi, yakni pada Juli lalu. Berawal dari meteran airnya yang hilang dicuri orang.

“Lebaran kemarin sekitar bulan Mei meteran kami dicuri orang. Jadi kami tidak pakai air PDAM. Kami juga pakai sumur. Jadi lebih sering manfaatkan air sumur,” ceritanya. Lalu, dua bulan berikutnya, dia melaporkan kehilangan itu ke pihak PDAM. Alhasil, diganti dengan meteran baru. Namun ia harus membayar Rp 500 ribu.

“Jadi, kata petugasnya, meski meteran hilang harus tetap bayar bulanannya. Ya, pikir saya apa yang mau dibayarkan. Wong, meterannya saja hilang. Kami juga pakai air sumur,” kata Mardiah.

Namun, ia tetap melakukan pembayaran dengan pergi ke kantor pos dekat rumahnya. Di sana, petugas kantor pos menyebutkan tagihannya mencapai Rp 400 ribu pas.

Dia pun pergi ke loket pembayaran Benteng, PDAM Tirta Mayang. “Di situ saya protes. Petugasnya cek, dan ternyata saya tetap bayar Rp 40 ribu. Mereka hanya menghilangkan nolnya satu saja,” imbuhnya.

Mardiah menyebutkan, rerata perbulan, ia tak pernah lebih membayar dari Rp 30 ribu. Lantaran, keseharian dalam pemakaian air PDAM begitu jarang. “Paling banyak Rp 21 ribu selama rumah ini pakai meteran air beberapa tahun lalu. Tapi 2016 sempat bayar Rp 90 ribu,” jelasnya.

Terkait usia meteran warganya yang sudah usang atau tua, Mardiah kurang mengetahuinya. Lantaran, rerata warganya menggunakan air sumur gali. “Ada banyak tetangga yang kerap ngeluh bayar air mahal. Mungkin karena meterannya sudah berusia tua,” jelasnya.

Secara teknis, usia meteran air berpotensi mempengaruhi jumlah penggunaan yang tercatat. Umur meteran air seyogyanya hanya lima tahun, setelah itu diganti lagi dengan yang baru. Bila tidak diganti, ada kemungkinan jumlah yang tercatat jadi lebih besar dari yang terpakai, atau justru sebaliknya.

Meteran air yang sudah usang bisa mengakibatkan kerugian pada pelanggan maupun pada PDAM. Bila meteran terlalu cepat berputar, maka pelanggan yang dirugikan, dan bila lebih lambat berputar, maka PDAM yang dirugikan. Hal itu diakui oleh Kasi Humas PDAM Tirta Mayang, Jendro Suseno, saat dikonfirmasi kepada Tribun.

Dia mengatakan usia efektif penggunaan meteran air hanya 5 tahun. Jendro mengakui masih banyak rumah pelanggan yang meteran airnya masih belum diganti dengan yang baru padahal sudah lewat masa penggunaan wajar. “Ada yang masih belum terganti. Usianya sampai 10 tahunan ada. Karena belum tercover oleh kita secara keseluruhan,” ungkap Jendro.

Ia menjelaskan dampak dari meteran yang telah lebih dari lima tahun, dapat menurunkan tingkat akurasi pembacaan di meteran. Ini bisa merugikan pelanggan sendiri maupun pihak PDAM.

Semisal, kata Jendro, di meteran itu tercatat 1 kubik air yang dikeluarkan, namun hanya tercatat 880 liter air terpakai. Otomatis pelanggan hanya membayar air yang terpakai tersebut.

“Itu contoh kerugian yang diderita pihak kami jika meteran itu tidak diganti. Begitu juga sebaliknya, pelanggan juga bisa rugi, karena harus membayar lebih ketika air yang mereka pakai tak sesuai pemakaiannya,” katanya.

Tak sedikit pelanggan yang melakukan komplain kepada PDAM lantaran bengkaknya tagihan yang telah mereka bayar, kata Jendro.

“Protes mereka kita tampung. Kita langsung perintahkan petugas untuk melakukan pengecekan kalibrasi meteran (Tera Metee) di rumah pelanggan tersebut. Kalau memang merugikan, otomatis akan mempengaruhi tagihan,” katanya.

“Jika tidak, tagihannya bisa kita revisi ulang dengan mengembalikam uang itu, atau pelanggan jika mau bisa menabung atau di konvilasi untuk pembayaran tagihan bulan berikutnya,” pungkasnya.