Review Film Bumi Manusia, Benturan Cinta dan Kasta Sosial

Review Film Bumi Manusia, Benturan Cinta dan Kasta Sosial

Hanung Bramantyo kembali menelurkan mahakaryanya—Bumi Manusia—yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer. Film ini telah melakukan gala premier di Surabaya, Kamis lalu (8/8/2019). Film ini menempatkan Iqbal Ramadhan Mawar Eva de Jongh, Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara sebagai bintangnya.

Jika melalui buku, Pramoedya mengambarkan Bumi Manusia dengan narasi yang sangat apik. Hanung berusaha menvisualisasikan melewati tangan dinginnya dengan hasil tak kalah memukau. Terbukti saat Gala Premier, dia mendapatkan standing applause.

Bumi manusia mendeskripsikan tentang perbedaan kelas sosial dengan setting era kolonial Belanda. Framing-framing khas zaman kolonial divisualisasikan dengan detail yang teliti. Setiap sudut yang diambil memiliki tujuan cerita berusaha menegaskan karakter pribumi dan Belanda. Semuanya diawali dari Pertemuan Anelise (peranakan Belanda) dengan Minke (pribumi), si tokoh utama yang saling jatuh cinta.

Lika-liku cinta dua orang pemuda tak semulus lika-liku jalannya cinta remaja SMA. Mereka harus berhadapan dengan sudut pandang stratifikasi sosial yang kuat dan yang dijunjung tinggi oleh kaum foedal. Kelas-kelas sosial menjadikan mereka terasa jauh walau cinta berusaha untuk mereka satukan.

Sosok Nyai (Sha Ine Febriyanti) yang seolah-olah benang merah yang tak merah antara pribumi dan kolonial pun, dianggap lebih rendah dibanding pribumi itu sendiri dan tak diakui pengadilan atas kepemilikan sah Annelise. Dia terasing ditengah kaum pribumi dan tak diterima di lingkungan kolonial. Dia berusaha untuk berjuang mendapatkan hak-haknya di tengah kehidupan kolonial. Berjuang untuk martabatnya sebagai perempuan dan untuk bangsanya.

Semua semakin menarik ketika kisah cinta Annelis (Mawar Eva de Jongh) dan Minke (Iqbal Ramadhan) ikut merembet ke pengkelasan sosial yang subjektif. Usaha Minke dengan pemikiran idealisnya, berjuang untuk Annelise dan akhirnya kesadaran berjuang untuk bangsanya.

Film ini memiliki penokohan yang kuat, seperti tokoh Nyai, sosok perempuan Jawa yang tangguh dan tegas ditengah-tengah keterasingannya namun berjiwa lembut. Tokoh Minke, pemuda yang awalnya berjuang untuk cintanya, berani berjuang untuk bangsanya.

Semua set desain ditata apik dengan alat-alat yang benar dibutuhkan tampa menimbulkan kesan berlebihan. Penggunaan bahasa Jawa dan Belanda menjadi bagian menarik cerita yang tak bisa dilewatkan. Kata-kata khas Pramoedya disajikan lewat dialog.

Bagaimana perjuangan Minke mendapatkan Annelise ditengah lika-liku kelas kaum foedal. Dan bagaimana perjuangan Nyai Ontosoroh yang terasing dengan kaumnya namun memiliki kecerdasan yang luar biasa? Nantikan, Film Bumi Manusia mulai tayang pada tanggal 15 Agustus 2019 serempak di seluruh bioskop Indonesia.

Ayo Berbagi Tips

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *